Jumat, 19 September 2014

7 Kebiasaan Unik Orang Indonesia Tentang Ponsel Yang Dipakainya

Orang Indonesia mempunyai keunikan tersendiri dalam berbagai hal, termasuk dalam menggunakan smartphone atau ponsel yang digunakannya. Berbagai vendor dari luar negeri ramai-ramai menyasar Indonesia sebagai pasar utamanya karena orang Indonesia memiliki keunikan tersendiri. 
Kebiasaan unik apa saja yang membuat vendor-vendor dari luar negeri sehingga harus menyasar Indonesia sebagai pasar utamanya, selain karena jumlah penduduknya yang banyak. Berikut kebiasaan unik orang Indonesia mengenai smartphone yang dipakainya
  1. Mudah bosan. Orang Indonesia paling demen dengan yang namanya gonta-ganti handphone atau smartphone karena sudah bosan dengan yang digunakannya. Ketika ada produk baru yang menurutnya lebih oke dari berbagai fiturnya maka produk lamanya akan dijual walaupun harganya jatuh. 
  2. Gengsian. Sebagian orang Indonesia gengsian, mereka memilih produk yang harganya mahal biar dibilang orang kaya walaupun tidak tahu fungsinya, atau hanya karena ingin dibilang tidak gaptek sehingga membeli perangkat yang banyak fiturnya. Lihat beberapa tahun ke belakang perangkat pintas seperti Nokia Communicator, BlackBerry, dan iPhone terbaru diburu orang Indonesia, mereka rela antri berjam-jam bahkan hingga bermalam di lokasi penjualan untuk mendapatkan perangkat tersebut.
  3. Senang dengan ponsel dual-SIM. Karena faktor harga dan jaringan operator selular yang tidak stabil, banyak orang Indonesia yang menyukai ponsel dual-SIM. Selain itu banyak juga orang Indonesia yang memiliki ponsel lebih dari satu. Satu untuk keluarga atau orang tercinta, satu untuk usaha atau bisnis. 
  4. Hobi selfie. Orang Indonesia paling hobi dengan foto selfie sehingga smartphone atau ponsel yang memiliki foto depan akan laku keras dibandingkan dengan ponsel atau smartphone yang tidak memiliki kamera depan.
  5. Baterainya tahan lama. Orang Indonesia paling seneng dengan yang namanya ngobrol, chatting dan media sosial. Oleh sebab itu orang Indonesia akan mencari ponsel atau smartphone yang memiliki kapasitas baterai yang lebih besar kapasitasnya dan bisa bertahan lebih lama. 
  6. Harga murah kualitas wah. Sekarang tren ponsel atau smartphone murah tetapi kualitas tidak mengecewakan akan laris manis di Indonesia. Seperti halnya smartphone Xiaomi Redmi 1S, smartphone dengan harga 1,5 juta ini, dalam waktu kurang dari 1 jam, 50 ribu unit smartphone ini langsung ludes. 
  7. Modis dan Mobile. Orang Indonesia itu seneng dengan perangkat yang modis, sehingga pernak-pernik smartphone seperti casing, sarung handphone atau smartphone yang menarik akan selalu laris diburu penggemarnya. Begitu juga dengan aksesoris tambahan seperti powerbank begitu laku di Indonesia karena banyak orang yang melakukan perjalanan atau mobile dari satu tempat ke tempat lain agar tidak ketinggalan atau kehilangan momen berharga maka selalu membawa powerbank atau baterai cadangan untuk mengatasinya./Dikkno76.com

Ilmuwan Jerman Buktikan Ada Kehidupan Setelah Kematian

Bahwa ada beberapa bentuk kehidupan setelah kematian.

 Sebuah tim psikolog dan dokter yang bekerjasama dengan Technische Universität Berlin, Jerman, baru-baru ini mengumumkan bahwa ada beberapa bentuk kehidupan setelah kematian. Pernyataan mengejutkan ini didasarkan pada kesimpulan dari penelitian medis yang mereka lakukan terhadap pengalaman seseorang menjelang kematian.
Seperti dilansir worldnewsdailyreport.com, tim peneliti mengawasi kondisi pasien yang secara medis dinyatakan mati selama hampir 20 menit sebelum hidup kembali. Proses ini diulang pada 944 orang sukarelawan selama empat tahun terakhir.
Untuk membuat pasien dalam keadaan mati, tim peneliti melakukan pencampuran terhadap beberapa jenis obat-obatan termasuk epinefrin dan dimethyltryptamine. Obat-obatan ini memungkinkan tubuh untuk bertahan dalam keadaan mati secara medis hingga melalui proses penghidupan kembali tanpa merusak tubuh.
Tubuh pasien kemudian dimasukkan ke dalam keadaan koma sementara dengan menggunakan campuran obat lain, yang harus disaring oleh ozon dari darah selama proses penghidupan kembali 18 menit kemudian.
Durasi sangat panjang dari pengalaman baru-baru ini dimungkinkan oleh perkembangan mesin cardiopulmonary recitation (CPR) yang disebut AutoPulse. Jenis peralatan ini telah digunakan selama beberapa tahun terakhir, untuk menghidupkan kembali orang yang telah mati antara 40 menit sampai satu jam.
Pengalaman menjelang kematian sebelumnya telah dihipotesiskan dalam berbagai jurnal medis sebagai memiliki karakteristik halusinasi, tetapi Dr Berthold Ackermann dan timnya, sebaliknya, menganggap mereka sebagai bukti keberadaan akhirat dan dari bentuk dualisme antara pikiran dan tubuh.
Tim ilmuwan yang dipimpin oleh Dr Berthold Ackermann, telah memantau operasi dan telah mengumpulkan kesaksian dari para pasien. Meskipun ada beberapa variasi-variasi kecil dari satu orang ke orang lain, semua pasien memiliki beberapa kenangan saat berada dalam kematian medis. dan sebagian besar dari mereka menggambarkan beberapa sensasi yang sangat mirip. Sebagian kenangan termasuk perasaan detasemen dari tubuh, perasaan levitasi, ketenangan, keamanan, kehangatan, hingga melihat cahaya yang luar biasa.
Para ilmuwan mengatakan bahwa mereka sangat menyadari bahwa ada banyak kesimpulan mereka yang akan mengejutkan banyak orang, seperti fakta bahwa gambaran tentang kematian yang selama ini diketahui dari ajaran agama tampaknya sama sekali tidak terjadi. Padahal, para relawan merupakan umat dari berbagai kepercayaan seperti Kristen, Muslim, Yahudi, Hindu dan ateis.
“Saya tahu, hasil penelitian kami bisa mengganggu keyakinan beragama dari banyak orang” kata Mr Ackermann. “Tapi dengan cara ini, kami baru saja menjawab salah satu pertanyaan terbesar dalam sejarah umat manusia. Ya, ada kehidupan setelah kematian dan hal ini berlaku untuk semua orang.” lanjutnya. /sumber : (rsn-onvsoff)

 

Kamis, 18 September 2014

Cara Mengatasi Kentut Agar Tidak Berbau Busuk

Meski kentut merupakan reaksi alami tubuh, tapi kentut yang terlalu sering dan berbau tentunya membuat orang malu. Agar kentut bisa normal dan tak berbau busuk ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Apa saja?
Menurut American College of Gastroenterology, rata-rata kentut 10 hingga 20 kali sehari masih dianggap normal. Dalam frekuensi normal, kentut merupakan hal yang sehat karena menandakan sistem pencernaan khususnya gerakan peristaltik usus hingga anus berjalan dengan normal.
Selain membuat ketidaknyamanan sosial, kentut yang berbau busuk bisa menyebabkan nyeri dan rasa tidak nyaman di perut. Perubahan pola makan dan gaya hidup dapat membantu mengurangi jumlah gas dalam tubuh.
Dilansir Livestrong, Selasa (18/1/2011), berikut beberapa mengatasi agar kentut tak berbau busuk:
1. Minum teh herbal
Minum teh herbal setelah makan dapat mencegah terbentuknya gas di usus. Breastcancer.org merekomendasikan teh chamomile atau peppermint, yang dapat membantu tubuh Anda mencerna makanan dengan benar sehingga mencegah kentut berbau. Teh hijau juga dapat membantu.
2. Batasi makanan yang memicu gas di perut
Terlalu banyak makan makanan yang tinggi serat seperti kacang-kacangan dan umbi-umbian dapat memicu gas di perut. Batasi sayuran seperti brokoli, kubis, kecambah dan kembang kol bila Anda sedang mengalami perut kembung. Alkohol dan minuman bersoda juga dapat membuat Anda lebih sering kentut dan berbau.
3. Perhatikan asupan produk susu
Perhatikan apakah gas dalam perut Anda meningkat saat mengonsumsi produk susu seperti susu, keju dan yogurt, karena bisa jadi Anda tidak toleran terhadap laktosa, yang bisa membuat Anda lebih sering kentut dengan bau yang busuk.
4. Rutin olahraga
Menurut MayoClinic.com teratur olahraga dapat membantu meringankan chronic intestinal gas (kentut yang berlebihan) yang menyebabkan kentut berbau busuk. Pilih latihan yang ringan seperti jalan kaki dan yoga, yang dapat membantu kerja sistem pencernaan yang sehat sehingga tidak menghasilkan gas yang berlebihan.
5. Ubah kebiasaan makan
Ubah kebiasaan makan Anda untuk membantu tubuh mencerna makanan dengan benar dan mengurangi udara yang masuk ke perut saat makan. Kunyahlah makanan dengan perlahan, mulut tertutup, tidak dengan gigitan besar dan tidak bicara saat makan. Jangan gunakan sedotan saat minum dan hindari permen karet untuk mencegah lebih banyak udara masuk ke perut.
(Detikhealth.com)

22 Tanya Jawab Ilmiah Seputar Kentut

1. Darimana asal Kentut?
Dari gas dalam usus. Gas dalam usus berasal dari udara yang kita telan, gas yang menerobos ke usus dari darah, gas dari reaksi kimia dan gas dari bakteri perut.
2. Apa komposisi Kentut?
Bervariasi. Makin banyak udara anda telan, makin banyak kadar nitrogen dalam kentut (oksigen dalam udara terabsorbsi oleh tubuh sebelum sampai usus). Adanya bakteria dan reaksi kimia antara asam perut dan cairan usus menghasilkan karbondioksida.
Bakteria juga menghasilkan metana dan hidrogen. Proporsi masing-masing gas tergantung apa yang anda makan, berapa banyak uidara yang tertelan, jenis bakteri dalam usus, berapa lama kita menahan kentut.
Makin lama menahan kentut, makin banyak kadar nitrogen dalam kentut karena gas-gas lain terabsorbsi oleh darah melalui dinding usus. Orang yang makannya tergesa-gesa kadar oksigen dalam kentutnya lebih banyak karena tubuh tidak sempat mengabsorbsi oksigen.
3. Kenapa Kentut berbau busuk?
Bau kentut karena kandungan hidrogen sulfida dan merkaptan. Kedua senyawa ini mengandung sulfur (belerang). Makin banyak kandungan sulfur dalam makanan anda, makin banyak sulfur dan merkaptan diproduksi oleh bakteri dalam perut dan makin busuklah kentut anda.
Telur dan daging berperan besar dalam menghasilkan bau busuk kentut. Kacang-kacangan berperan dalam memproduksi volume kentut dan bukan kebusukannya.
4. Kenapa Kentut menimbulkan bunyi?
Karena adanya vibrasi lubang anus pada saat kentut diproduksi. Kerasnya bunyi tergantung kecepatan gas.
5. Kenapa Kentut yang busuk itu hangat dan tidak bersuara?
Salah satu sumber kentut adalah bakteri. Fermentasi bakteri dan proses pencernaan memproduksi panas, dan hasil sampingannya adalah gas busuk.
Ukuran gelembung gas lebih kecil, hangat dan jenuh dengan produk metabolisme bakteri yang berbau busuk. Ini kemudian menjadi kentut, walau hanya kecil volumenya tapi SBD (Silent but Deadly).
6. Berapa banyak Kentut diproduksi dalam sehari?
Rata-rata setengah liter sehari dalam 14 kali kentut.
7. Mengapa Kentut keluar melalui lubang dubur?
Karena density-nya lebih ringan, mengapa gas tidak melakukan perjalanan ke atas? Tidak demikian. Gerak peristaltik usus mendorong isinya ke arah bawah. Tekanan di sekitar anus lebih rendah.
Gerak peristaltik usus menjadikan ruang menjadi bertekanan, sehingga memaksa isi usus termasuk gas-gasnya untuk bergerak ke kawasan yang bertekanan lebih rendah, yaitu sekitar anus.
Dalam perjalanan ke arah anus, gelembung-
gelembung kecil bergabung menjadi gelembung besar. Kalau tidak ada gerak peristaltik, gelembung gas akan menerobos ke atas lagi, tapi tidak terlalu jauh karena bentuk usus yang rumit dan berbelit-belit.
8. Berapa waktu yang diperlukan Kentut untuk melakukan perjalanan ke hidung orang lain?
Tergantung kondisi udara seperti kelembaban, suhu, kecepatan dan arah angin, berat molekul gas kentut, jarak antara transmitter dengan receiver. Begitu meninggalkan sumbernya, gas kentut menyebar dan konsenstrasinya berkurang.
Kalau kentut tidak terdeteksi dalam beberapa detik berarti mengalami pengenceran di udara dan hilang ditelan udara selama-lamanya. Kecuali kalau anda kentut di tempat sempit seperti lift atau mobil, konsentrasinya lebih banyak sehingga baunya akan tinggal dalam kurun waktu lama sampai terserap oleh dinding.
9. Apakah setiap orang Kentut?
Sudah pasti, kalau masih hidup. Sesaat setelah mati pun orang masih bisa kentut.
10. Betulkah laki-laki kentut lebih sering daripada perempuan?
Tidak ada hubungannya dengan gender. Kalau benar, maka perempuan menahan kentutnya dan saat kentut banyak sekali jumlah yang dikeluarkan.
11. Saat apa biasanya orang Kentut?
Pagi hari saat di toilet, yang disebut “morning thunder”. Kalau resonansinya bagus, mungkin bisa terdengar di seluruh penjuru rumah.
12. Mengapa kacang-kacangan menyebabkan banyak kentut?
Kacang-kacangan mengandung zat gula yang tidak bisa dicerna tubuh. Zat gula tersebut (raffinose, stachiose, verbascose) jika mencapai usus, bakteri di usus langsung berpesta pora dan menghasilkan gas. Jagung, kubis, susu juga penyebab banyak kentut (bukan baunya).
13. Selain makanan, apa saja penyebab Kentut?
Udara yang tertelan, makan terburu-buru, makan tanpa dikunyah, minum soft drink, naik pesawat udara (karena tekanan udara lebih rendah, sehingga gas di dalam usus mengalami ekspansi, sehingga muncul sebagai kentut).
14. Apakah kentut sama dengan sendawa, tapi muncul di lain lubang?
Tidak. Sendawa muncul dari perut, komposisi kimianya lain dengan kentut. Sendawa mengandung udara lebih banyak, kentut mengandung gas yang diproduksi oleh bakteri lebih banyak.
15. Kemana perginya kentut kalau ditahan atau tidak dikeluarkan?
Bukan diabsorbsi darah, bukan hilang karena bocor. Kentut berimigrasi menuju ke bagian atas menuju usus dan pada gilirannya akan keluar juga. Jadi bukan lenyap, hanya mengalami penundaan.
16. Mungkinkah kentut terbakar?
Kentut mengandung metana, hidrogen yang combustible (gas alam mengandung komponen ini juga). Kalau terbakar, nyalanya berwarna biru karena kandungan unsur hidrogen.
17. Bisakah menyalakan korek api dengan kentut?
Konsistensinya lain. Juga suhunya tidak cukup panas untuk memulai pembakaran.
18. Mengapa Kentut anjing dan kucing lebih busuk?
Karena kucing dan anjing adalah karnivora. Daging kaya akan protein. Protein mengandung banyak sulfur, jadi kentut binatang ini lebih busuk. Lain dengan herbivora seperti gajah, kuda, kambing yang memproduksi banyak kentut, lebih lama, lebih keras bunyinya, tapi relatif tidak berbau.
19. Betulkah pening kepala kalau mencium bau kentut 2-3 kali berturut-turut?
Kentut mengandung sedikit oksigen. Mungkin sedikit saja anda akan mengalami pening kepala kalau mencium bau kentut terlalu banyak.
20. Apakah warna kentut?
Tidak berwarna. Kalau warnanya oranye seperti gas nitrogen oksida akan ketahuan siapa yang kentut.
21. Apakah kentut itu acid, basa, atau netral?
Acid, karena mengandung karbondioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S).
22. Apakah yang terjadi kalau seseorang kentut di planet venus?
Planet venus sudah banyak mengandung sulfur (belerang) di lapisan udaranya, jadi kentut di sana tidak akan banyak pengaruhnya.
Sumber: Apakabardunia.com

Mengapa Abjad Disebut Alfabet?

Pada zaman dahulu, orang mencatat atau menyampaikan berita tertulis dengan cara menggambar benda-benda. Misalnya, seseorang mencatat atau mengabarkan bahwa kerbaunya mati, maka ia menggambar seekor kerbau mati. Cara seperti ini disebut pictograf. Mereka menggambar di batu-batu, kulit kayu, atau bisa juga di atas lempengan yang terbuat dari tanah liat.
Ribuan tahun lampau, orang Mesir kuno tetap “menulis” dengan cara menggambar benda-benda. Padahal mereka sudah lama menggunakan sejenis kertas dari daun papirus. Karena terdesak oleh kesibukan-kesibukan yang lain, sering kali gambar-gambar itu dibuat dengan tergesa-gesa. Akibatnya, gambar-gambar itu cenderung berbentuk garis-garis sederhana.
Sebuah gambar benda hanya berupa goresan beberapa garir. Namun ada hal yang belum berubah, yaitu tiap gambar mewakili satu objek benda. Lama kelamaan, gambar-gambar sederhana itu berubah hanya menjadi simbol-simbol kata yang disebut ideograf.
Tetapi orang Mesir kuno menyebutnya hiroglif. Sistem tulisan dengan simbol kata-kata ini sangat rumit, sehingga hanya diketahui sebagian orang saja. Terutama para bangsawan dan orang-orang kaya pada masa itu.
Di negeri-negeri Timur Tengah, sistem penulisan terus menerus mengalami perkembangan. Penulisan dengan simbol kata-kata akhirnya berubah memakai huruf. Goresan garis-garis yang digunakan untuk menerangkan objek benda menjadi kian sederhana bentuknya, yaitu hanya berupa huruf-huruf. Lalu tiap huruf diberi satu bunyi yang berasal dari nama benda aslinya.
Kira-kira sejak tahun 1500 sebelum masehi, orang-orang Palestina dan Suriah mulai menggunakan kode yang mewakili satu bunyi. Mereka juga mulai menulis dari kanan ke kiri. Huruf-huruf ini lalu dipakai oleh oleh orang-orang Punisia yang tinggal di pantai-pantai Suriah. Secara berangsur-angsur, mereka menyederhanakan bentuk-bentuk huruf. Orang-orang Punisia inilah yang kemudian dikenal sebagai penyebar sistem huruf dan pemakaiannya ke berbagai negara. Bangsa Punisia kebanyakan adalah pedagang yang sering bepergian ke negeri-negeri yang jauh, bahkan sampai ke Inggris. Orang-orang Punisia pula yang membuat bentuk-bentuk huruf yang sekarang kita kenal sebagai abjad. Tapi waktu itu jumlahnya masih kurang dari 26 huruf.
Selama bertualang sebagai pedagang, orang-orang Punisia akhirnya sampai ke Yunani. Ternyata orang-orang Yunani tertarik dengan simbol-simbol huruf yang dipakai orang-orang Punisia. Orang-orang Yunani kemudian mempelajarinya. Bahkan mereka mengubah beberapa huruf dan menambah beberapa bunyi vokal. Selain itu mereka juga menamakan huruf-huruf yang telah mereka sempurnakan dan dipakai dalam kegiatan menulis sehari-hari.
Huruf pertama disebut “alfa”, huruf kedua “beta” dan seterusnya. Karena nama kedua huruf pertama inilah akhirnya sistem huruf tersebut dinamakan “alfabet”. Dan nama ini dipakai hingga sekarang, merupakan sebutan lain dari abjad, terdiri 26 huruf; A, B, C, dan seterusnya sampai Z./Sumber Koran Suara Merdeka

Selasa, 16 September 2014

Jebakan Cepat Curiga, Inspiratip..!!

Jebakan cepat curiga inspiratip
Seorang tukang roti membeli 1 kg gandum dari seorang petani. Ia curiga bahwa Gandum yang dibelinya tidak benar-benar seberat 1 kg. Beberapa kali ia menimbang tidak penuh 1 kg.
Yakinlah ia bahwa petani itu telah
melakukan kecurangan. Ia melaporkan pada hakim, dan petani itu dimajukan ke sidang pengadilan.

Pada saat sidang, hakim berkata pada petani, " tentu kamu mempunyai timbangan ? "
" tidak, tuan hakim," jawab petani.
" lalu, bagaimana kamu bisa
menimbang gandum yang kamu jual itu ? " Tanya hakim.
Petani itu menjawab, " ah, itu mudah sekali dijelaskan, Tuan hakim. Untuk menimbang gandum seberat 1 kg itu, sebagai penyeimbang, aku gunakan roti seberat 1 kg yang aku beli
dari tukang roti yang sekarang mengadukan saya Tuan " By Ahmad Effendi Nasution

Demokrasi Setengah Matang

Siapapun tidak akan menyangkal, gelombang reformasi diberbagai sub sektor di NKRI tercinta ini baru bergulir 1998 silam. Dan tentunya, bongkar pasang perundang-undangan adalah hal yg lumrah menuju penyempurnaan. Simpelnya, kondisi ini sejalan dengan tingkat kualitas berpikir manusia Indonesia.
Riak-riak, gejolak dan tuntutan dinamika demokrasi,  sungguh tidak terelakkan pasca 1998. Kebebasan bersuara, berserikat dan berkumpul sebagaimana dijamin UUD 45, boleh jadi hal fenomenal terjadi saat ini. Tetapi, bilakah fundamentalisme HAM yg digaransi UUD tersebut mampu memberi garansi perbaikan diberbagai struktur Pemerintahan NKRI ini?. Dan kenapa ada pula suara-suara sumbang yang menyebutkan Negerinya Bunda Pertiwi sedang dilanda demokrasi kebabblasan?..Adakah suatu indicator bisa dijadikan sebagai parameter untuk mengukur tingkat kebaikan atau keburukan, perkembangan Demokrasi Indonesia?.
Dulu, seorang Pejabat Pemerintah, Anggota DPR, dan berbagai  pemimpin di Lembaga Tinggi Negara,  sungguh sangat langka sampai terseret ke balik jeruji akibat kasus-kasus korupsi dan sebagainya. Namun kini pasca 2013, nyaris,.. itulah yang menjadi pemandangan di setiap Media cetak dan elektronik nasional. Sampai-sampai seorang anak SD di Kota Padangsidimpuan bernama Amin Lubis bertanya kepada Ayahnya, “ Kalau Polisi, sudah korupsi, siapa lagi yang akan menangkap pelaku koruptor lainnya” katanya usai menonton berita Korupsi Korlantar Polri.
Rentetan perjalanan demokrasi bangsa yang terfilosfis dalam bingkai demokrasi PANCASILA boleh jadi diinterpretasikan suatu proses dinamika yang tidak miring ke Barat (liberal / kapitalis) dan tidak pula condong ke Timur (sosialis / komunis) tetapi tertata dalam aktualisasi serba PRO KERAKYATAN. Artinya, bila tidak pro rakyat, harus dibuang.
Didasari berbagai fenomena tersebut diatas, sudah selayaknya ditarik garis kesimpulan. Yakni seluruh ketentuan perundang-undangan yang berlaku di NKRI harus pro rakyat. Ini harga mati. Tetapi, kenapa realisasi pelaksanaan UU cendrung menguntungkan Pihak BUAYA sementara kepentingan CICAK tak pernah terjamin UUD 45? Kenapa?… Karena demokrasi bangsa ini masih setengah matang. Tidak pernah mau MEMBENAHI seluruh aturan main yang tercipta pasca REFORMASI 1998. tetapi berupaya menggiring kembali ke masa ORLA & ORBA untuk suatu kepentingan yang tidak pernah tersirat…../Kompasiana By Hendri Pinayungan Sitompul

UU Pilkada, Ken Arok, SBY, Ahok, Prabowo dalam Sejarah Politik Pencitraan

Berbagai pernyataan politikus terkait UU Pilkada tampak di mata publik sebagai topik yang membingungkan. Publik dibingungkan dengan aneka pernyataan SBY dengan Demokrat, antara Ahok dengan Gerindra, antara Hidayat Nur Wahid dengan Aburizal Bakrie, Fadli Zon, Muhammad Taufik, misalnya. Meskipun sama menolak atau mendukung mereka memiliki alasan yang berbeda-beda. Dalam sejarah Nusantara klasik, dalam diri Ken Arok - menjadi potret komplit perilaku politikus masa kini - yang mewarnai lahirnya Kerajaan Singasari di Tumapel. Kondisi politik zaman Ken Arok itu nyaris sama dengan tingkah-polah para politisi di Indonesia yang tampak lucu. Sejak zaman Singasari politik kesan dan pencitraan telah dibangun pertama kali oleh Ken Arok. Mari kita simak sejarah Ken Arok agar publik paham kedalaman makna perilaku politikus dengan gembira ria.
Ken Arok tumbuh sebagai bayi terbuang yang diambil di kuburan oleh sekelompok perampok. Tumbuh dalam asuhan perampok bukan berarti membuat Ken Arok bodoh. Ken Arok diyakini memiliki darah hasil perselingkuhan seorang resi terkenal dengan putri resi yang lain. Hal itu bisa dibuktikan dengan tampangnya yang elok. Selain itu Ken Arok mewarisi kecerdasan dewata yang mengagumkan.
Ken Arok tumbuh menjadi pemuda hebat: ganteng, kaya (dari hasil merampok orang tuanya), cerdas (terbangun lingkungan keras dan dinamis para perampok) dan penuh tipu daya (hasil dari didikan perampok), dan suka pamer dan kesan dalam pencitraan (untuk mengelabuhi orang lain). Ke mana pun Ken Arok pergi, maka di situlah Ken Arok menjadi pusat perhatian.
Menurut ICW terdapat ratusan anggota DPR/D yang menjadi tersangka korupsi. Saat ini, gambaran anggota DPR dan politikus yang kaya (hasil korupsi, kolusi dan nepotisme), cerdas (terbangun dari persaingan keras partai) dan tipu daya (hasil didikan kroni dan keluarga), dan suka pamer dan pencitraan (mengelabuhi publik) menjadi gambaran umum para politikus Indonesia.
Ken Arok tampil di muka umum menjadi orang yang sangat religius. Ken Arok rajin bersembahyang dan belajar agama dan spiritualisme. Tujuan Ken Arok adalah mencari ilmu bukan untuk laku baik namun untuk tujuan politis: mengetahui karakter masyarakat beragama sehingga Ken Arok lebih mudah diterima dan memerlakukan mereka dengan tepat untuk tujuan politiknya. Maka Ken Arok mampu menampilkan diri seperti yang diinginkan oleh publik.
Ken Arok mencitrakan diri sebagai orang religius (seperti Hidayat Nur Wahid tampak religius). Ken Arok dekat dan berteman dengan tokoh penting nan ampuh dan mumpuni seperti Mpu Gandring (politikus mendekati para kiai). Ken Arok mencitrakan diri sebagai bagian dari keturunan raja dengan mengatakan dia keturunan Dewa Wisnu (membangun seolah keturunan bangsawan dengan membangun rumah dengan nama Puri Cikeas misalnya).
Ken Arok juga menjadi pedagang yang sukses dengan memanfaatkan kekuatannya sebagai keluarga perampok (sama dengan Ical yang menjadi pengusaha). Bahkan Ken Arok tampil dengan garang dengan orasinya yang memukau membela rakyat (seperti Ahok yang ceplas-ceplos). Ken Arok pun tampil atas nama rakyat Tumapel dan berjanji akan membangun kedaulatan dan kejayaan Tumapel (Prabowo berjanji Indonesia akan jaya jika dia jadi Presiden). Ken Arok pun pandai berpindah-pindah kelompok (Fadli Zon) dari PBB ke Gerindra.
Semua sikap, strategi, taktik, ambisi pribadi dan kelompok berhasil diramu oleh Ken Arok untuk mencapai tujuan: menjadi raja Tumapel menggantikan Tunggul Ametung. Semua sumber pencitraan dukungan dari rakyat dikuasai oleh Ken Arok (resi -kyai), pedagang (pengusaha, mafia), kalangan feudal (keturunan tokoh lokal), ksatria (tentara dan pegawai), professional (mpu atau empu), kelompok pemuda (brandal dan preman serta perampok) dan tentu raja Tumapel yang didekati oleh Ken Arok - padahal Ken Dedes diincar oleh Ken Arok sebagai permaisurinya kelak ketika menjadi raja Tumapel bahkan menjadi besar: Singasari.
Nah, kini publik harus belajar dari sejarah Ken Arok untuk memahami sikap Hidayat Nur Wahid, Aburizal Bakrie, SBY, Ahok, Prabowo, Fadli Zon terkait UU MD 3 dan UU Pilkada. Bahwa keenam orang tersebut adalah gambaran ambisi Ken Arok untuk berkuasa. Kelima orang itu memiliki satu tujuan: berkuasa. Ya. Berkuasa. Ken Arok dengan bagian-bagian strategi dan sifatnya adalah potret ambisi Hidayat Nur Wahid, SBY, Prabowo, Ahok, Fadli Zon, Ical dan sebagainya.
Jadi, publik tak perlu repot dan bingung menghadapi dan membaca pernyataan SBY yang bertolak belakang dengan Demokrat. Pernyataan Ical yang atas nama negara. Hidayat yang mengatasnamakan konstitusi dan agama. Fadli Zon yang mengatai Ahok kutu loncat. Prabowo yang berjuang untuk kedaulatan. Ahok yang demi demokrasi. Mereka adalah sebagian dari keseluruhan Ken Arok - guru politik pencitraan paling hebat dalam sejarah Nusantara.
Salam bahagia ala saya./ Ninoy N Karundeng /Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words

Anomali Ahok: Pahlawan atau Pengkhianat?

Gayanya tegas, tanpa tedeng aling-aling, ceplas-ceplos, dan apa adanya. Itulah sebagian besar sifat yang dimiliki Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Dalam beberapa tahun terakhir, sosok  yang memiliki panggilan Ahok ini merupakan magnet bagi media setelah Joko Widodo (Jokowi), Dahlan Iskan, dan Ridwan Kamil.
Tentu bukan karena sorotan negatif, melainkan tindakan positif dari keempat pria tersebut yang kalau boleh saya sebut sebagai “F4″ atau “Empat Serangkai”. Keberadaan mereka telah teruji satu sama lain. Jokowi sebagai Gubernur DKI yang kini menjadi Presiden Terpilih, Dahlan (Menteri BUMN), dan Ridwan (Walikota Bandung).
Namun, dibanding ketiganya, hanya Ahok yang memiliki “sisi lain” nan unik. Itu karena selain vokal, Ahok merupakan sosok yang memiliki prinsip tegas dan tak gentar terhadap lawan-lawan politiknya. Termasuk dari partainya sendiri, Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Slogan “Show must to go on” seperti menjadi bagian dari sikap Ahok yang berarti, apapun yang terjadi, dia tetap pada pendiriannya.
Termasuk ketika sosok berusia 48 tahun ini memutuskan mundur dari Gerindra. Bagi saya, ini yang menarik disimak. Sebab, menurut Ahok,  pengunduran dirinya itu karena tidak setuju dengan keputusan partainya yang menginginkan pemilihan kepala daerah tidak langsung alias melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Maklum, pemilihan kepala daerah lewat DPRD akan membuat sang terpilih menjadi budak anggota dewan dan bukan budak rakyat.
Bagi saya, sikap Ahok itu sangat tepat dan tegas. Itu membuktikannya sebagai salah satu dari sedikit pemimpin di negeri ini yang berani mengambil sikap beda meski harus menghadapi banyak rintangan. A ya A, dan bukan di mulut A padahal hatinya B. Jika Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 digelar hari ini, saya tanpa ragu memilih Ahok yang memang lebih tegas dibanding tokoh lainnya.

Di sisi lain, tindakan Ahok yang memilih keluar dari Gerindra tanpa mengajukan surat pengunduran dirinya menjadi ironi tersendiri. Maklum, bagaimanapun juga Gerindra merupakan partai yang mengusungnya saat Pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta 2012. Saya sendiri termasuk satu di dari sekitar 2,4 juta suara yang mencoblos gambar Ahok dan Jokowi.
Salah satu pernyataan Ahok yang bisa jadi saya sesalkan adalah ketika menyebut bukan peran Gerindra yang menjadikannya Wakil Gubernur DKI, melainkan justru Jokowi seperti yang saya kutip dari laman Kompas.com“Yang bisa jadikan saya wagub siapa? Jokowi dong. Saya ini cuma numpang. Kalau saya maju dalam pilkada sendirian, enggak akan laku. Sekarang pertanyaannya, Jokowi menyuruh saya mundur enggak?
Padahal, seperti yang kita ketahui, justru Gerindra merupakan partai yang mengusung Ahok untuk menjadi wakil Jokowi dalam Pilgub DKI Jakarta 2012. Bahkan,  menurut Ketua Dewan Pembina Gerindra, Hashim Djojohadikusumo, pada awalnya Jokowi dan Ketua PDI-P, Megawati Soekarnoputri sempat menolak Ahok. Namun, justru berkat kengototan Prabowo Subianto dalam meyakinkan Jokowi-Megawati, akhirnya sukses menjadikan Ahok cawagub (Kompas.com).
Bagi saya, meski sikap Ahok yang tak sepaham dengan partainya dalam memilih kepala daerah melalui DPRD sangat dibenarkan dan patut diapresiasi. Namun, sangat disayangkan ketika Ahok menyebut keberadaannya kini di Jalan Medan Merdeka Selatan bukan karena faktor Gerindra. Itu seperti halnya dalam adagium lawas, “minum air tidak ingat sumbernya” atau bahasa kasarnya sehari-hari, “kacang lupa kulit”.
Okelah jika Ahok menegaskan bahwa dirinya memang dari dulu tidak setia pada partai. Tapi, ya, bukan berarti harus melupakan peran sang pendukungnya dengan dalih “demi rakyat”. Sebab, bagaimanapun di dunia ini loyalitas merupakan hal yang utama melebihi segalanya. Dalam hal ini, Gerindra sudah memberikan amanah pada Pilgub DKI lalu dengan menjadikan Ahok wakil Jokowi. Namun, kini Ahok malah berbalik 180 derajat seperti mengkhianatinya.
Sebagai salah satu pemilih dan juga pengagum sikapnya, saya berharap Ahok keluar baik-baik dari Gerindra dengan pamitan dan tidak melupakan peran partai. Sayang banget jika kariernya hanya mentok sebagai Gubernur DKI Jakarta hingga 2017 menggantikan Jokowi yang menjadi Presiden pada 20 Oktober mendatang.
Kelak, saya bermimpi pada 2019, Ahok dan Jokowi bersaing dalam perebutan kursi menuju Medan Merdeka Utara. Atau, setidaknya, keduanya mampu berkolaborasi seperti saat mengurus Jakarta dalam dua tahun terakhir ini. Satu hal lagi harapan saya, semoga Ahok tidak menjadi sosok Lu Bu dalam Roman legendaris asal Tiongkok, Kisah Tiga Negara (Sam Kok) yang bercerita tentang tokoh antagonis yang rela menjual tuannya sendiri demi ambisi pribadi. Semoga.

- Cikini, 16 September 2014 /kompasiana / Choirul Huda

Bukan Bagi-bagi Kursi, Tapi Bagi-bagi Menteri

Dulu sebelum pencalonan Pak Jokowi menjadi presiden, beliau pernah mengatakan tidak akan bagi-bagi kursi ketika menjadi presiden. Di dalam website www.jokowi.id dijelaskan bahwa Pak Jokowi akan memulai memulai budaya baru dalam merangkul partai lain untuk mendukungnya menjelang pemilihan presiden 2014. Gubernur DKI Jakarta ini tidak ingin ada bagi-bagi kursi menteri dalam melakukan kerjasama dengan partai politik.
“Semua parpol saya ajak kerjasama. Tapi kerjasama ini bukan bagi-bagi kursi. Saya ajak untuk bersama-sama. Kalau semua parpol mau, ya ayo, tapi kalau hanya satu parpol yang mau, ya tidak apa-apa. Sudah cukup,” ujar Jokowi dalam pertemuan dengan Forum Pemred di Restoran Horapa, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (15/4/2014) malam.
Karena sudah menjadi tekadnya, maka Pak Jokowi akan terus konsisten merealisasikan bekerja sama dengan parpol-parpol tanpa bagi-bagi kursi. Dengan kerjasama model ini, Jokowi berharap bisa membentuk kabinet kerja, bukan kabinet politik.
Pilpres telah terlaksana, akhirnya pak Jokowi yang berpasangan dengan Pak Jusuf Kalla unggul dalam perolehan suara. Dengan begitu pasangan Jokowi-JK yang jadi pemenang. Sebelum dilantik pasangan capres cawapres pemenang sudah mulai menyusun formulasi susunan kabinetnya. Pak Jokowi menjanjikan akan menyusun kabinet yang ramping, tidak gendut, berasal dari kalangan profesional bukan dari kalangan parpol.
Setelah rakyat dibuat penasaran dengan pengumuman struktur kabinet Jokowi-JK, akhirnya diumumkan juga. Kabinet Jokowi-JK digadang-gadangkan akan menjadi kabinet yang ramping. Selain ramping kabinet Jokowi-JK juga diisukan akan berisi orang-orang dari kalangan profesional, tidak bagi-bagi kursi kepada partai pendukung. Dengan alasan biar bisa kerja maksimal, lebih merakyat dan menjadi milik rakyat. Selain agar lebih banyak membantu presiden dalam menjalankan program pemerintahan dengan maksimal, diangkatnya menteri dari kalangan profesional alasan lainnya adalah biar tidak terkungkung oleh kepentingan parpol pengusung.
Beberapa waktu yang lalu susunan struktur kabinet Jokowi-JK sudah diumumkan langsung oleh pak Jokowi. Jumlah menteri dalam kabinet baru tersebut berjumlah 34 menteri, yang terdiri dari 18 profesional dan 16 profesional partai. Selain strukturnya yang sudah diumumkan, nama-mana yang akan menduduki kursi menteri pun sudah mulai beredar. Dari 34 menteri semuanya berasal dari profesional, tidak ada tempat untuk kader partai.
Bagi wong cilik yang memenangkan pasangan Jokowi-JK patut berterima kasih pada pak Jokowi dan pak JK, serta tim transisi yang telah menepati janji. Mereka berjanji tidak akan bagi-bagi kursi, mereka berjanji mencari menteri dari kalangan profesional, dan mereka menepati janji mereka. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang menepati janji. Dari 34 menteri tersebut, apakah itu termasuk ramping atau gendut, yang jelas itu semua tergantung kebutuhan. Pak Jokowi pernah mengatakan dasar menentukan kementerian bukan masalah ramping atau gendut, tapi yang terpenting dalam sebuah pemerintahan adalah kinerja di tiap kementerian yang dibentuk dapat fokus menyelesaikan program-program yang dibuat sesuai target.
Bagi yang telah memenangkan pasangan pak Jokowi dan Pak JK patut juga berterimakasih karena pak Jokowi sudah konsisten untuk tidak bagi-bagi kursi. Dan kenyataannya memang seperti itu dari 34 menteri semuanya dari profesional. Itu berarti terbukti kalau pak Jokowi bukan bagi-bagi kursi, tapi bagi-bagi menteri sesuai formulasi.
Akhirnya, mari kita berdoa, semoga Pak Presiden, Pak Wakil mampu menjalankan tugasnya dengan baik, semoga para menterinya benar-benar profesional dan tidak sibuk mengurusi partai dengan merangkap menjadi ketua umum parpol, sehingga mampu bekerja dengan baik, menjalankan program yang pro rakyat sesuai target, dan semoga mampu menjadikan Indonesia menjadi negara yang adil, makmur dan sejahtera. Indonesia Hebat!
Jambi, 16 September 2014/Wong Ndeso, Wong Cilik, Rakyat Jelata yang Rindu Terwujudnya Keadilan dan Kemakmuran/kompasiana by Wahyu Hidayanto

Manusia, dan Lima Macam Hubungan yang Mengitarinya

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Âli Muhammad
Dalam peringatan wiladah Imam Ali bin Musa ar-Ridha (salamullahi ‘alaih) yang diadakan di aula Muthahhari, dihadiri oleh beberapa orang Iran, dan satu diantaranya ada Hujjatul Islam Naili Pur. Di dalam acara tersebut, Hujjatul Islam Naili Pur berkesempatan untuk menyampaikan beberapa patah kata atau mungkin juga bisa dibilang ceramah singkat. Dalam ceramahnya itu, beliau memberi penjelasan mengenai lima hubungan yang mengitari manusia. Pertama, hubungan dengan Allah. Hubungan yang pertama ini diwujudkan dengan kita beribadah kepada Allah. Baik itu dengan puasa, sedekah, berbuat baik, shalat, dan lain-lain.
Kata Hujjatul Islam Naili Pur, puncak dari segala hubungan dengan Tuhan adalah dengan memelihara shalat. Mengenai shalat; seorang filsuf atau sufi dari persia, Mulla Shadra, membedakan antara shalat dan mendirikan shalat (aqimu as-shalat). Orang yang hanya sekadar shalat saja, seperti halnya orang yang melakukan sebuah peforma saja; berdiri, rukuk, lalu sujud (sesuatu hal yang terlihat seperti shalat). Sedangkan mendirikan shalat (aqimu as-shalat) adalah menjalankan shalat secara menyeluruh: adabnya, tata cara, niat dengan sepenuh hati. Karena itu tidak ada kontradiksi antara ayat “wa yukimu as-shalata” (mendirikan shalat) dengan ayat “fawaylul mushallin” (celaka orang yang shalat). Dan lewat shalat pula-lah kita dapat mikraj, bukankah Sang Nabi terkasih pernah bersabda, “as-shalatu mikrajul mukminin.” (shalat itu mikrajnya orang yang beriman). Nabi Muhammad Saw. ingin para umatnya merasakan mikraj yang sama seperti Nabi: yaitu dalam shalat.
Kedua, hubungan dengan orang-orang suci atau wali Allah. Dalam hal ini, kita dapat bertawasul kepada orang-orang suci atau memberikan doa, juga kita bisa berhubungan dengan orang-orang suci dengan cara ziarah, jika makam itu dekat kita dapat berziarah secara langsung, dan jika itu jauh, kita bisa berziarah dari jauh. Ketiga, hubungan dengan dirinya sendiri. Dengan meningkatkan perilaku baik dan menjaga dari perilaku buruk. Kata al-Quran, “kuw anfusikum” (jagalah dirimu). Atau bisa juga dengan cara kita mengenal diri kita, dengan kita kenal diri kita, kita akan kenal Tuhan, begitulah kata sebuah riwayat.
Keempat, hubungan dengan sesama manusia. Hubungan dengan sesama manusia memang begitu ‘vital’, mengapa? Manusia adalah makhluk sosial, ia tidak bisa hidup sendiri, ia memerlukan bantuan dari orang di sekitarnya. Dalam hal ini, bisa juga diartikan akhlak. Akhlak manusia kepada sesamanya, manusia mesti hidup rukun berdampingan; tidak boleh saling menyakiti, berbuat jahat, atau juga mengambil yang bukan haknya. Dalam hubungan manusia dengan manusia yang lain juga, bukankah sang Nabi tidak ingin menshalati orang yang mempunyai hutang?. Kelima, hubungan dengan alam di sekitar kita. Manusia, diberi amanat oleh Tuhan sebagai khalifah fi al-ardh (pemimpin di bumi), dan alam menjadi sebuah tanggung jawabnya. Alam sebagai makrokosmos, dan manusia sebagai mikrokosmos, yang, juga bagian dari semesta ini. Manusia dalam tugasnya dituntut untuk menjaga keseimbangan alam. Dengan tidak mengekploitasi alam secara berlebih, me-menej limbah, tidak merusak alam sekitar. Kata Haidar Bagir, jika kita mau berfilsafat sedikit: kita dan alam berasal dari Yang Satu. Ketika kita merusak alam, sebetulnya kita telah merusak diri kita sendiri; ketika kita menebang pohon, sebetulnya kita telah mengurangi jatah oksigen, juga meniadakan cadangan air–lebih jauh lagi: ‘meniadakan paru-paru dunia.’
Walhasil, dari kelima macam hubungan ini, dapat disingkat: hablu minallah, hablu minannas, dan hablu minal alam. Kesemuanya ini tidak bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya, kesemuanya saling melengkapi.
Wama taufiqi illa billah
Muhammad Ali Reza
6 September 2014

Super Yuraaaa! Catatan Konser Balada Sirkus “Yunita Rachman” Yura

“Seorang musisi akan maju apabila dia percaya akan karyanya.” Demikian ucap penyanyi kondang Glenn Fredly dalam konser “Balada Sirkus Yura” yang digelar di Instutute Francaise Bandung (IFI) pada Minggu Malam 14 September 2014 lalu. Yunita Rachman sang penyanyi membuktikan hal itu, seperti mengikuti pepatah yang tak pernah usang: Di mana ada kemauan di situ ada jalan. Tidak menjadi juara dalam The Voice of Indonesia penyanyi kelahiran Bandung 9 Juni 1991 justru menemukan jalannya sendiri.
Berturut-turut setelah berhasil menelurkan album perdananya bertajuk YURA tahun lalu, tampil mengesankan dalam ajang Kampoeng Jazz, Universitas Padjadjaran 3 Mei 2014, kini Yura bernai menggelarkan konser yang dihadiri ratusan pengunjung. Yura menyanyikan belasan lagu dengan dua segmen diiringi tujuh orang musisi dan orang backing vokalis dengan panggung yang ditata layaknya arena sirkus.
Yura membuka penampilannya dengan lagu “Pesta” yang dipopulerkan antara lain oleh Elfa’s Singer, dengan gayanya yang khas jenaka, ceria, senyum sekali-sekali bertepuk tangan. Setelah itu diikuti oleh lagu “Kataji” lagu berbahasa Sunda yang dibawakan secara jazzy, yang menurut saya membuat Yura punya karakter sendiri dan lagu ini benar-benar milik Yura, dibawakan dengan caranya yang bertepuk tangan dan dehem hu..hu..hu.
Poin Sembilan untuk dua lagu pertama. Selanjutnya ada beberapa lagu yang ada di albumnya di antaranya, “Keruh di Air Jenuh” dinyanyikan dengan gestur dan ekspresi yang pas, juga khas Yura, tetapi tidak sedahsyat ketika dia menyanyikan dua lagu pertama, tetapi jauh lebih meningkat dari penampilannya di Mostly Jazz medio Mei lalu, serta beberapa lagu berbahasa Inggris yang saya tidak terlalu hafal.
Di sebelah saya ada mahasiswa Jurusan Seni Musik Universitas Pendidikan Indonesia yang seiya sekata untuk lagu-lagu pertama. Tetapi ketika membawakan lagu-lagu berbahasa Inggris, saya melihat Yura keluar dari karakternya dan mulai bereksperimen- sekalipun penyanyi jazz kondang Andien juga kerap melakukan hal yang sama- ini beresiko bagi penyanyi debutan baru.
“Loh, justru itu kelebihan penyanyi indie seperti Yura yang membuktikan menyanyikan lagu yang tidak kacangan dan seperti minuman kaleng,” cetus mahasiswa itu. Mungkin telinganya lebih baik dari saya.
Namun saya akhirnya sependapat dengan mahasiswa itu ketika Yura membawakan lagu blues berduet dengan seorang musisi senior- kalau tidak salah namanya Hari Potjhang- yang memainkan harmonika. Power Yura justru keluar di lagu itu dan menunjukkan kepiawaiannya memainkan harmonika. Hasilnya perpaduan mereka menciptakan harmonisasi bernuansa blues.
Kopral Jono Ala Yura
Yura kembali menyihir saya pada lagu ke delapan (kalau tidak salah) dengan seruan Hey, hey, hey, hey beberapa kali. Ternyata dia membawakan tembang lawas “Kopral Jono” dengan kharakternya, bahkan memperkenalkan para penggiring musiknya pada lagu ini yang membuat penonton tertawa. Lagu ini berawal dari lompatan Yura yang lain, yaitu terlibat dengan suatu kelompok yang disebut empat wanita (bersama Monita Tahalea, Dira Sugandi, Cantika Abigail) yang membawakan sebuah drama musikal “Surat-surat Aryati” beberapa waktu lalu.
Kopral Jono adalah lagu populer 1950-an ciptaan Ismail Marzuki, popular oleh Henny Poerwonegoro di eranya (yang masih menjadi evergreen hingga sekarang). Pada masa kini seingat saya juga pernah dibawakan dengan jazz oleh debutan Indonesia Idol Ghea Dahliana (dengan suara agak serak dan centil bernuansa swing memukau), Andien (membawakannya dengan lantang, energik, kelebihan pada artikulasinya yang sempurna serta pure jazz).
Sementara Yura menyanyikan dengan cara yang khasnya pada konsernya. Lebih baik ketika dia membawakannya pada “Surat-surat Aryati” yang suaranya agak berat dan mengingatkan pada penyanyi jazz lainnya Iga Mawarni. Saya berdebat dengan seorang rekan wartawan membandingkan ketiga penyanyi ini ketika menyanyikan lagu yang sama. Rekan itu bilang Yura belum keluar karakternya dalam video Youtube arena “Surat-surat Aryati”. Tetapi di konser menurut saya Yura cukup meningkat dan mampu membuatnya lebih beda. Catatan lain Ini membuktikan lagu apa pun yang dibawakan dengan cara jazz membuat penyanyi berimproviasi secara bebas.
Duet dengan Glenn dan Sarasvati
Pada segmen kedua Yura memperlihatkan kemampuannya berduet dengan musisi yang dianggap ikut membesarkannya. Di antaranya dengan Risa Sarasvati di mana Yura juga pernah terlibat. Mereka membawakan lagu “Cut and Paste” dan “Runaway Baby” dari Bruno Mars. Tadinya saya khawatir Yura akan tenggelam oleh Risa yang jam terbangnya lebih tinggi- mahasiswa seni musik di sebelah saya juga khawatir. Ternyata Yura berhasil mengimbangi seniornya itu.
There is a girl with a million lust/She does things to get it fast/Shes only good in cut and paste/A silly girl who think shes the best Bagian dari lagu “Cut and Paste” saya suka.
Yura juga menyajikan kejutan kepada penonton (saya sudah menduganya Glenn pasti hadir mendukung muridnya) dengan berduet dengan coatch-nya dalam arena The Voice of Indonesia, Glenn Fredly. Keduanya membawakan lagu “Cinta dan Rahasia” yang menurut Glenn lagu ini ditakdirkan untuk Yura. Mahasiswa jurusan seni musik sebelah saya lebih jeli: chord lagu ini sejuta umat (karena sering dipakai musisi), namun tetap memikat. Saya sendiri tidak terlalu terkesan, walau tetap beri apresiasi.
Nah yang lebih memukau sebetulnya lagu kedua duet itu, bertajuk “Televisi” . Aku ingin membeli tv 72 inchi/Untuk bisa aku nikmati/Bersama sanak family/Menyenangkan punya televisi/Lihat dunia yang berwarna-warni/Asal jangan acaranya basi/ Cuma bikin keqi/lagu yang dipopulerkan oleh Band Naif ini dibawakan dengan nuansa broadway dan Yura mampu mengimbangi Glenn pada lagu ini, baik improvisasi, energik. Jam terbang yang tinggi membuat Glenn bisa menghidupkan suasana misalnya dengan memainkan semacam rebana yang sebelumnya juga digunakan Yura

Yura menutup konsernya dengan dua lagu andalannya “Superlunar” (ini lagu kedua setelah “Kataji” membuat saya jatuh hati pada penyanyi debutan baru ini), serta “Balada Sirkus”. Tentunya lagu “Super Lunar” membuat saya ikut berjoget bersama para penonton termasuk mahasiswa seni musik tadi.
Mari Berdansa/ Kau yang di depan mata/Janganlah kau gelisah/mari kita berpesta/…. Liriknya berfantasi dengan refrainnya su/su/super lunar. Koreografi para badut berjoget membuat lagu ini hidup. Memang lagu untuk membuat orang berjoget. Ini baru “Super Yura” menurut saya. Penampilan sebangun juga ketika Yura membawakan Balada Sirkus. Penonton yang kebagian terompet kecil ikut menyemarakkan suasana.
Catatan untuk Yura
Secara keseluruhan Yura maju pesat dengan penampilannya “Konser Balada Sirkus”. Staminanya luar biasa menyanyikan belasan lagu tanpa turun “performance” sekali pun. Dia juga mampu menunjukkan ketrampilannya memainkan keyboard. Saya berdebat dengan seorang rekan wartawan di kantor setelah kembali ke Jakarta. Menurut rekan saya Yura secara keseluruhan belum matang di jazz-nya. Saya sependapat terutama ketika Yura membawakan lagu-lagu yang bukan lagu dia. Keberanian bereksperemintal lebih baik dilakukan di level yang lebih kecil dulu. Selain itu Yura harus diuji tampil secara solo di luar “kandang” dan dalam arena yang lebih besar seperti seperti Jazz Goes to campus, Jak Jazz, Java Jazz yang semacam itu.
Di sela-sela konser Yura juga memperkenalkan video klip “Balada Sirkus”, komikal, lucu dan menarik. Walau bukan hal yang baru, karena penyanyi Australia Lenka dan Mocca, band asal Bandung juga menggunakan gaya yang sama. Demikian diskusi saya dengan mahasiswa Jurusan Seni Musik itu yang kerap berdebat dengan saya di sela-sela konser.
Yura saya prediksi mampu meramaikan blantika musik terutama jazz lebih luas dan dia punya modal untuk itu. Pasalnya menarik ialah beberapa female jazz Indonesia yang kerap muncul, datang dengan latar belakang pendidikan yang bagus. Di antaranya Iga Mawarni (kelahiran 24 Juli 1973), alumnus D3 Sastra Belanda UI, Andien Aisyah (kelahiran 25 Agustus 1985) misalnya alumnus Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Monita Tahalea (kelahiran 21 Juli 1987) alumnus Program Studi Desain Komunikasi Visual, Universitas Trisakti, Dira Sugandi (kelahiran 1979) alumnus Jurusan Seni Musik, Universitas Pelita Harapan. Tentunya juga ada Citra Skolastika (kelahiran 1993) yang juga mulai menyadari hal itu.
Sebetulnya ada jebolan ajang pencarian bakat yang juga saya tunggu, Ghea Dahliana (kelahiran 23 Oktober 1989), jebolan Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, yang sebetulnya potensial di blantika jazz dengan kharakternya sendiri. Namun kiprahnya belakangan belum terdengar lagi dan lebih sibuk pada pekerjaannya di sebuah televisi swasta sebagai orang kantoran.
Yura sendiri mempunyai bekal pendidikan yang baik, alumnus Jurusan Hubungan Masyarakat, Universitas Padjadjaran. Saya melihat sepertinya bekal pendidikan di atas SMA untuk bisa eksis di dunia blantika musik Indonesia merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan, karena memberikan penyanyi itu bekal public relation yang baik untuk berkomunikasi dengan media, fans base, lebel, tentunya juga tampil dengan audience yang lebih luas. Apakah seorang Yunita Rachman menjadi Super Yura? Waktu membuktikan. Kemauan untuk terus belajar, memelihara komunitas penggemar (seperti yang dilakukan Agnes Monica dan sekarang debutan baru Fatin) juga hal yang penting.
Irvan Sjafari

 
Design Downloaded from css website templates | blogger tutorials | hd wallpapers download