Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Âli Muhammad
Dalam peringatan wiladah Imam Ali bin Musa ar-Ridha (salamullahi ‘alaih)
yang diadakan di aula Muthahhari, dihadiri oleh beberapa orang Iran,
dan satu diantaranya ada Hujjatul Islam Naili Pur. Di dalam acara
tersebut, Hujjatul Islam Naili Pur berkesempatan untuk menyampaikan
beberapa patah kata atau mungkin juga bisa dibilang ceramah singkat.
Dalam ceramahnya itu, beliau memberi penjelasan mengenai lima hubungan
yang mengitari manusia. Pertama, hubungan dengan Allah.
Hubungan yang pertama ini diwujudkan dengan kita beribadah kepada Allah.
Baik itu dengan puasa, sedekah, berbuat baik, shalat, dan lain-lain.
Kata Hujjatul Islam Naili Pur, puncak dari segala
hubungan dengan Tuhan adalah dengan memelihara shalat. Mengenai shalat;
seorang filsuf atau sufi dari persia, Mulla Shadra, membedakan antara
shalat dan mendirikan shalat (aqimu as-shalat). Orang yang
hanya sekadar shalat saja, seperti halnya orang yang melakukan sebuah
peforma saja; berdiri, rukuk, lalu sujud (sesuatu hal yang terlihat
seperti shalat). Sedangkan mendirikan shalat (aqimu as-shalat)
adalah menjalankan shalat secara menyeluruh: adabnya, tata cara, niat
dengan sepenuh hati. Karena itu tidak ada kontradiksi antara ayat “wa yukimu as-shalata” (mendirikan shalat) dengan ayat “fawaylul mushallin” (celaka orang yang shalat). Dan lewat shalat pula-lah kita dapat mikraj, bukankah Sang Nabi terkasih pernah bersabda, “as-shalatu mikrajul mukminin.”
(shalat itu mikrajnya orang yang beriman). Nabi Muhammad Saw. ingin
para umatnya merasakan mikraj yang sama seperti Nabi: yaitu dalam
shalat.
Kedua, hubungan dengan orang-orang suci
atau wali Allah. Dalam hal ini, kita dapat bertawasul kepada orang-orang
suci atau memberikan doa, juga kita bisa berhubungan dengan orang-orang
suci dengan cara ziarah, jika makam itu dekat kita dapat berziarah
secara langsung, dan jika itu jauh, kita bisa berziarah dari jauh. Ketiga, hubungan dengan dirinya sendiri. Dengan meningkatkan perilaku baik dan menjaga dari perilaku buruk. Kata al-Quran, “kuw anfusikum”
(jagalah dirimu). Atau bisa juga dengan cara kita mengenal diri kita,
dengan kita kenal diri kita, kita akan kenal Tuhan, begitulah kata
sebuah riwayat.
Keempat, hubungan dengan sesama manusia.
Hubungan dengan sesama manusia memang begitu ‘vital’, mengapa? Manusia
adalah makhluk sosial, ia tidak bisa hidup sendiri, ia memerlukan
bantuan dari orang di sekitarnya. Dalam hal ini, bisa juga diartikan
akhlak. Akhlak manusia kepada sesamanya, manusia mesti hidup rukun
berdampingan; tidak boleh saling menyakiti, berbuat jahat, atau juga
mengambil yang bukan haknya. Dalam hubungan manusia dengan manusia yang
lain juga, bukankah sang Nabi tidak ingin menshalati orang yang
mempunyai hutang?. Kelima, hubungan dengan alam di sekitar kita. Manusia, diberi amanat oleh Tuhan sebagai khalifah fi al-ardh
(pemimpin di bumi), dan alam menjadi sebuah tanggung jawabnya. Alam
sebagai makrokosmos, dan manusia sebagai mikrokosmos, yang, juga bagian
dari semesta ini. Manusia dalam tugasnya dituntut untuk menjaga
keseimbangan alam. Dengan tidak mengekploitasi alam secara berlebih,
me-menej limbah, tidak merusak alam sekitar. Kata Haidar Bagir, jika
kita mau berfilsafat sedikit: kita dan alam berasal dari Yang Satu.
Ketika kita merusak alam, sebetulnya kita telah merusak diri kita
sendiri; ketika kita menebang pohon, sebetulnya kita telah mengurangi
jatah oksigen, juga meniadakan cadangan air–lebih jauh lagi: ‘meniadakan
paru-paru dunia.’
Walhasil, dari kelima macam hubungan ini, dapat disingkat: hablu minallah, hablu minannas, dan hablu minal alam. Kesemuanya ini tidak bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya, kesemuanya saling melengkapi.
Wama taufiqi illa billah
Muhammad Ali Reza
6 September 2014







0 komentar:
Posting Komentar