Berbagai pernyataan politikus terkait UU
Pilkada tampak di mata publik sebagai topik yang membingungkan. Publik
dibingungkan dengan aneka pernyataan SBY dengan Demokrat, antara Ahok
dengan Gerindra, antara Hidayat Nur Wahid dengan Aburizal Bakrie, Fadli
Zon, Muhammad Taufik, misalnya. Meskipun sama menolak atau mendukung
mereka memiliki alasan yang berbeda-beda. Dalam sejarah Nusantara
klasik, dalam diri Ken Arok - menjadi potret komplit perilaku politikus
masa kini - yang mewarnai lahirnya Kerajaan Singasari di Tumapel.
Kondisi politik zaman Ken Arok itu nyaris sama dengan tingkah-polah para
politisi di Indonesia yang tampak lucu. Sejak zaman Singasari politik
kesan dan pencitraan telah dibangun pertama kali oleh Ken Arok. Mari
kita simak sejarah Ken Arok agar publik paham kedalaman makna perilaku
politikus dengan gembira ria.
Ken Arok tumbuh sebagai bayi terbuang
yang diambil di kuburan oleh sekelompok perampok. Tumbuh dalam asuhan
perampok bukan berarti membuat Ken Arok bodoh. Ken Arok diyakini
memiliki darah hasil perselingkuhan seorang resi terkenal dengan putri
resi yang lain. Hal itu bisa dibuktikan dengan tampangnya yang elok.
Selain itu Ken Arok mewarisi kecerdasan dewata yang mengagumkan.
Ken Arok tumbuh menjadi pemuda hebat:
ganteng, kaya (dari hasil merampok orang tuanya), cerdas (terbangun
lingkungan keras dan dinamis para perampok) dan penuh tipu daya (hasil
dari didikan perampok), dan suka pamer dan kesan dalam pencitraan (untuk
mengelabuhi orang lain). Ke mana pun Ken Arok pergi, maka di situlah
Ken Arok menjadi pusat perhatian.
Menurut ICW terdapat ratusan anggota
DPR/D yang menjadi tersangka korupsi. Saat ini, gambaran anggota DPR dan
politikus yang kaya (hasil korupsi, kolusi dan nepotisme), cerdas
(terbangun dari persaingan keras partai) dan tipu daya (hasil didikan
kroni dan keluarga), dan suka pamer dan pencitraan (mengelabuhi publik)
menjadi gambaran umum para politikus Indonesia.
Ken Arok tampil di muka umum menjadi
orang yang sangat religius. Ken Arok rajin bersembahyang dan belajar
agama dan spiritualisme. Tujuan Ken Arok adalah mencari ilmu bukan untuk
laku baik namun untuk tujuan politis: mengetahui karakter masyarakat
beragama sehingga Ken Arok lebih mudah diterima dan memerlakukan mereka
dengan tepat untuk tujuan politiknya. Maka Ken Arok mampu menampilkan
diri seperti yang diinginkan oleh publik.
Ken Arok mencitrakan diri sebagai orang
religius (seperti Hidayat Nur Wahid tampak religius). Ken Arok dekat dan
berteman dengan tokoh penting nan ampuh dan mumpuni seperti Mpu
Gandring (politikus mendekati para kiai). Ken Arok mencitrakan diri
sebagai bagian dari keturunan raja dengan mengatakan dia keturunan Dewa
Wisnu (membangun seolah keturunan bangsawan dengan membangun rumah
dengan nama Puri Cikeas misalnya).
Ken Arok juga menjadi pedagang yang
sukses dengan memanfaatkan kekuatannya sebagai keluarga perampok (sama
dengan Ical yang menjadi pengusaha). Bahkan Ken Arok tampil dengan
garang dengan orasinya yang memukau membela rakyat (seperti Ahok yang
ceplas-ceplos). Ken Arok pun tampil atas nama rakyat Tumapel dan
berjanji akan membangun kedaulatan dan kejayaan Tumapel (Prabowo
berjanji Indonesia akan jaya jika dia jadi Presiden). Ken Arok pun
pandai berpindah-pindah kelompok (Fadli Zon) dari PBB ke Gerindra.
Semua sikap, strategi, taktik, ambisi
pribadi dan kelompok berhasil diramu oleh Ken Arok untuk mencapai
tujuan: menjadi raja Tumapel menggantikan Tunggul Ametung. Semua sumber
pencitraan dukungan dari rakyat dikuasai oleh Ken Arok (resi -kyai),
pedagang (pengusaha, mafia), kalangan feudal (keturunan tokoh lokal),
ksatria (tentara dan pegawai), professional (mpu atau empu), kelompok
pemuda (brandal dan preman serta perampok) dan tentu raja Tumapel yang
didekati oleh Ken Arok - padahal Ken Dedes diincar oleh Ken Arok sebagai
permaisurinya kelak ketika menjadi raja Tumapel bahkan menjadi besar:
Singasari.
Nah, kini publik harus belajar dari
sejarah Ken Arok untuk memahami sikap Hidayat Nur Wahid, Aburizal
Bakrie, SBY, Ahok, Prabowo, Fadli Zon terkait UU MD 3 dan UU Pilkada.
Bahwa keenam orang tersebut adalah gambaran ambisi Ken Arok untuk
berkuasa. Kelima orang itu memiliki satu tujuan: berkuasa. Ya. Berkuasa.
Ken Arok dengan bagian-bagian strategi dan sifatnya adalah potret
ambisi Hidayat Nur Wahid, SBY, Prabowo, Ahok, Fadli Zon, Ical dan
sebagainya.
Jadi, publik tak perlu repot dan bingung
menghadapi dan membaca pernyataan SBY yang bertolak belakang dengan
Demokrat. Pernyataan Ical yang atas nama negara. Hidayat yang
mengatasnamakan konstitusi dan agama. Fadli Zon yang mengatai Ahok kutu
loncat. Prabowo yang berjuang untuk kedaulatan. Ahok yang demi
demokrasi. Mereka adalah sebagian dari keseluruhan Ken Arok - guru
politik pencitraan paling hebat dalam sejarah Nusantara.
Salam bahagia ala saya./ Ninoy N Karundeng /Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words






0 komentar:
Posting Komentar